Marissa Anita berperan sebagai Milla di film A Normal Woman
Menjadi rupawan dan hidup dalam kemewahan ternyata tidak membuat Milla bahagia.
Setelah menikahi Jonathan, bagian dari keluarga Gunawan, Milla menemukan dirinya terkena sebuah penyakit misterius. Milla lalu mulai mempertanyakan makna hidupnya.
Berikut ini adalah rangkuman dari tanya & jawab dengan Marissa:
Q : Ceritakan tentang karakter Milla.
A :
Milla adalah seorang people-pleaser—perempuan yang selalu menempatkan kepentingan orang lain di atas dirinya sendiri.
Kalau kita bayangkan sebuah kelompok anjing (a pack of dogs), Milla ada di posisi paling bawah.
Di atasnya ada Liliana, Jonathan, Angel, dan yang lain.
Sejak kecil hingga sekarang, dia selalu berada di posisi itu.
Bayangkan bagaimana rasanya hidup seperti itu—selalu merasa di bawah, tak punya ruang untuk dirinya sendiri.
Q : Bagaimana pendapatmu tentang film ini?
A : Menurut saya banyak perempuan yang bisa merasa dekat dengan cerita ini.
Milla adalah simbol dari perempuan yang kehilangan dirinya sendiri karena terlalu sibuk
menyenangkan orang lain.
Tidak ada yang salah dengan mendedikasikan diri untuk orang lain, tapi kita harus berhati-hati agar tidak kehilangan jati diri kita di tengah perjalanan itu.
Film ini adalah perjalanan Milla untuk menemukan dirinya kembali.
Ia bertumbuh melalui pengalaman-pengalaman hidupnya. Milla yang berusia 20 tahun berbeda jauh dengan Milla yang sekarang.
Dan sebenarnya hal itu juga terjadi pada banyak orang.
Karena itulah menurut saya film ini bukan hanya tentang perempuan—tapi tentang
manusia yang bertumbuh.
Saya yakin banyak yang bisa merasakan keterkaitan, baik perempuan maupun laki-laki.
Secara pribadi saya pun bisa memahami Milla.
Marissa di usia 20-an berbeda dengan Marissa yang sekarang di usia 40-an.
Saya sudah melewati proses itu, dan dalam beberapa hal, saya masih terus mengalaminya sampai sekarang.
Q : Ceritakan tentang keluarga Gunawan.
A :
Keluarga Gunawan sebenarnya adalah keluarga yang terlihat sempurna.
Banyak orang mungkin akan berpikir, “Aku ingin jadi bagian dari keluarga itu”.
Mereka punya status sosial yang tinggi, kekayaan, dan segala sesuatu yang terbaik—the crème de la crème.
Tapi pertanyaannya, apakah semua itu benar-benar membuat bahagia?
Mungkin sebagian orang merasa,
“Memiliki semua itu memang menyenangkan, tapi saya butuh sesuatu yang lebih”. Nah, “lebih”-nya itu apa?
Milla punya versinya sendiri tentang hal itu.
Q : Bagaimana kamu mengembangkan karakter Milla bersama dengan Lucky
Kuswandi?
A : Utamanya tentu saya selalu berdiskusi dengan sutradara.
Bagi saya kepercayaan antara sutradara dan aktor itu sangat penting, jadi saya membuka diri pada Lucky.
Saat pertama kali membaca naskahnya saya langsung merasa ada beberapa kesamaan
antara saya dan Milla.
Saya pun berbagi cerita itu ke Lucky, termasuk ide-ide saya soal pengembangan karakter Milla.
Karena saya juga pernah melalui pengalaman yang mirip, saya merasa bisa memberikan masukan yang jujur.
Lucky bisa memilih untuk menerima atau tidak, tapi yang penting kami berdua berusaha menciptakan emosi yang autentik sebaik mungkin.








































