• Latest
Yang Tersisa Hanya Cinta

Kritik Peran Musik Scoring dalam Film Yang Tersisa Hanya Cinta

21 July, 2025
Apakah Cinta Harus Selalu Diperjuangkan Sendirian dalam Henry’s First Dates?

Apakah Cinta Harus Selalu Diperjuangkan Sendirian dalam Henry’s First Dates?

26 October, 2026
kinki

Review dan Kritik Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki (About a Place in the Kinki Region)

26 October, 2026
Review Hungry (2026)

Review Hungry (2026)

26 October, 2026
Borobudur Bukan Cuma Tempat Foto! Prancis dan Indonesia Siapkan Pengembangan Museum agar Sejarahnya Lebih Mudah Dipahami

Borobudur Bukan Cuma Tempat Foto! Prancis dan Indonesia Siapkan Pengembangan Museum agar Sejarahnya Lebih Mudah Dipahami

22 October, 2026
Review & Kritik Ah Girl: Ketika Sudut Pandang Anak Terasa Terlalu Dewasa

Review & Kritik Ah Girl: Ketika Sudut Pandang Anak Terasa Terlalu Dewasa

22 October, 2026
Main Belakang

Review Main Belakang: Berawal dari Lapangan Padel, Perselingkuhan Ini Malah Menyeret Dua Pasangan!

22 October, 2026
https://nutylaraswaty.com/review-beware-boiuna/

Review Beware BOIÚNA

21 October, 2026
Film Perayaan Pertama

Perayaan Pertama sebagai Film Drama Keluarga dengan Potensi Festival Sekaligus Peluang Menjangkau Penonton Bioskop Umum.

16 October, 2026
E:\Downloads\ROK Mission to ASEAN.png

Reawakened Man: Premis Menarik, tetapi Kok Terasa Familiar?

15 October, 2026
bandit

Bandit Pulang ke Indonesia Setelah Berkeliling Festival Dunia, Aku Ikut Senang sekaligus Penasaran

15 October, 2026
Review Hasut

Review Hasut: Ilya Sigma Buktikan Horor Tak Butuh Hantu untuk Membuat Penonton Ketakutan

14 October, 2026
Susah Bilang “Nggak”? Film People Pleaser Ajak Gen Z Belajar Pasang Boundaries

Susah Bilang “Nggak”? Film People Pleaser Ajak Gen Z Belajar Pasang Boundaries

14 October, 2026
Seperti Apa Rasanya Nonton Kuasa Gelap 2 di 4DX?

Seperti Apa Rasanya Nonton Kuasa Gelap 2 di 4DX?

8 October, 2026
Little Blue and Little Yellow

Little Blue and Little Yellow Hadir di Indonesia, Bawa Cerita Persahabatan dan Penerimaan untuk Semua Usia

8 October, 2026
digger nuty laraswaty

Tom Cruise Tidak Berlari di Digger, Tapi Justru Itu yang Membuat Film Ini Menarik

8 October, 2026

Jakarta World Cinema 2026 Bawa Pemenang Cannes, Venice dan Berlinale Sekaligus, Ada Fjord hingga Inherit

8 October, 2026
Review Practical Magic: The Book of Magic, Sihirnya Klasik tapi Drama Keluarganya Masih Relate

Review Practical Magic: The Book of Magic, Sihirnya Klasik tapi Drama Keluarganya Masih Relate

8 October, 2026
Review Verity: Makin Dibaca, Makin Bingung Siapa yang Bohong

Review Verity 2026: Anne Hathaway dan Dakota Johnson Bikin Kita Bingung Siapa yang Sebenarnya Gila

8 October, 2026
Crawlers Bikin Saya Curiga Sama Semua Laba-Laba: Review Horor 2026 yang Jijik tapi Seru

Crawlers Bikin Saya Curiga Sama Semua Laba-Laba: Review Horor 2026 yang Jijik tapi Seru

8 October, 2026
Teaser Trailer Empat Musim Pertiwi Penuh Teka Teki

Setelah Nonton Empat Musim Pertiwi: Ketika Rumah, Keluarga, dan Indonesia Terasa Begitu Dekat

5 October, 2026
Niken di Beautiful Pain

Memilih Bersuara Saat Diminta Bungkam, Belajar Berani dari Niken di Beautiful Pain

5 October, 2026
TAZZA: THE SONG OF BEELZEBUB

Tazza 4 The Song of Beelzebub: Ketika Sahabat Jadi Musuh, Byun Yo Han dan Roh Jae Won Bertaruh Segalanya

2 October, 2026
Review Film Lobang Buaya: Bukan Sekadar Horor, Ini Teka Teki yang Bikin Penonton Curiga ke Semua Orang

Review Film Lobang Buaya: Bukan Sekadar Horor, Ini Teka Teki yang Bikin Penonton Curiga ke Semua Orang

30 September, 2026
Merah Sebelum Fajar Film Garin Nugroho Hadirkan Nicholas Saputra dan Laura Basuki di Indonesia 1946

Merah Sebelum Fajar Film Garin Nugroho Hadirkan Nicholas Saputra dan Laura Basuki di Indonesia 1946

30 September, 2026
Kuasa gelap 2

Nonton Screening Kuasa Gelap Perjanjian Darah di IMAX

29 September, 2026
Kuasa gelap 2

Kuasa Gelap 2 Pecah Rekor, Jadi Film Indonesia Pertama yang Tayang di IMAX dan 4DX

25 September, 2026
Ghost in the Cell

Gila Banget, Ghost in the Cell Kalahin Film Horor Dunia dan Juara di Amerika

24 September, 2026
Jakarta Film Week 2026

Jakarta Film Week 2026 Resmi Dibuka, Ada Premiere Film Indonesia Sampai Jalan ke Cannes

24 September, 2026
Review Hasut: Horor Indonesia yang Membuktikan Suara Lebih Menyeramkan Daripada Hantu.

Review Hasut: Horor Indonesia yang Membuktikan Suara Lebih Menyeramkan Daripada Hantu.

24 September, 2026
Acha dan Darius

Semua Orang Salfok ke Red Carpet, Tapi Plot Twist Acha dan Darius Malah Bikin Netizen Emosi

24 September, 2026
Laraswaty
  • Movie Review
  • Press Release
  • Interview
  • Prize Winner
No Result
View All Result
Laraswaty
No Result
View All Result
Advertisement Banner
ADVERTISEMENT
Home Movie Review Article
Yang Tersisa Hanya Cinta

Kritik Peran Musik Scoring dalam Film Yang Tersisa Hanya Cinta

Tayang di Klik Film

by Nuty Laraswaty
21 July, 2025
in Article, Drama, Movie Kritic
270 5
0
Share on FacebookShare on Twitter

Film Yang Tersisa Hanya Cinta

Merupakan salah satu film Indonesia, yang tayang secara eksklusif di Klik Film.
Film ini  disutradarai oleh Wawan Sumarmo , sutradara yang aktif mengeluarkan film-filmnya seperti Garis Daun (2008), The Bridge (film pendek di Viddsee) dan lain-lain.

Pada intinya, film ini bercerita tentang kehidupan rumah tangga sepasang suami istri yang retak dan memutuskan untuk bercerai.

Sinopsis Singkat

Rumah tangga Melati (Dinda Hauw) dan Jati (Rey Mbayang) yang dibangun selama tujuh tahun, dihadapkan pada prahara.

Lelah menjadi tulang punggung keluarga karena Jati enggan mencari pekerjaan membuat Melati mantap bercerai dengan suaminya.

Namun, pada malam lebaran, permintaan ibu Melati (Niniek L Karim) meminta Jati dan Melati untuk bersatu agar dapat merayakan momen lebaran bersama-sama.

Ibu Melati ini mengalami demensia , adapun Jati sangat menyayangi Ibu Melati yang telah ia anggap sebagai ibunya sendiri.

Melati juga merasa bahwa ibunya akan sangat kehilangan Jati jika mereka berpisah. Namun ia sudah merasa, ini adalah saatnya untuk berpisah, secara emosional ia sudah merasa lelah.

 

Daftar nama pemain film “Yang Tersisa Hanya Cinta”.

Dinda Hauw: sebagai Melati.

Rey Mbayang: Sebagai Jati.

Niniek L Karim: Sebagai ibunya Melati.

Dewa Dayana: Sebagai Candra.

Ghina Nisa Salsabiela: Sebagai Galuh.

Gusti Pratama: Sebagai Andika.

Anton Pradhana: Sebagai Bagas.

Melalui tulisan kali ini, saya hendak mengkritik scoring musik yang terasa tidak mendukung , terhadap permainan emosi yang dirasakan oleh insan rumah tangga yang sedang menghadapi masalah ini.

Namun sebelumnya cek trailernya terlbih dahulu

 

Mengapa sebuah scoring film itu merupakan hal yang krusial dalam sebuah film?

Hal ini disebabkan karena musik merupakan jiwa dari sebuah film. Memberikan pemahaman akan situasi yang sedang dihadapi oleh karakternya.

Namun bisa juga menjadi sebuah pertanda akan adanya sebuah peristiwa yang sangat penting dan akan merubah segalanya.

Terlebih lagi masalah keluarga itu amatlah kompleks, melibatkan banyak emosi serta juga informasi-informasi penting dan mendalam.

Bahwa dalam sebuah kejadian tertentu, musik ini akan mengacu pada sebuah ingatan tertentu.

Musik yang menempel pada karakter pemerannya , akan menjadi benang merah, yang dihadirkan , akan memperjelas pemahaman penonton akan situasi yang sedang dihadapi, beserta hubungan sebab akibatnya.

Apakah itu merupakah adegan yang menerangkan :

-Situasi bahagia?

-Memori?

-Situasi mengancam?

Dan lain-lain.

Kupasan scoring dalam adegan

Terkait akan hal ini, mari diambil contoh , dimulai dengan pembukaan film ini.

Penonton akan dihadirkan pada sebuah peristiwa penting. Ini adalah adegan dimana sebuah keputusan diambil, serta akan mengubah kehidupan para insan rumah tangga.

Jika diperinci ke bagian micro dan inti , maka ini merupakan kunci pertama untuk penonton. Mengenai permasalahan yang dihadapi para karakternya, yaitu rumit dan telah terakumulasi tahunan.

Sebuah adegan yang nemampilkan momen dimana Melati sedang dalam proses negosiasi.

Tentunya emosi yang sedang terjadi adalah semacam rasa antusias bercampur dengan kecemasan, bagaimana jika negosiasi batal?

Ini masalah urgent sekali.

Namun alunan piano yang dihadirkan justru memberikan perasaan tenang, tiada urgensi, tiada kecemasan.

Alunan lagunya menyiratkan semua aman damai, bahkan memiliki kecenderungan datar , tanpa emosi.

Jika dikupas ini kan terasa amat kontras sekali, dengan adegan yang ditampilkan.

Seketika penonton hanya terkait pada dialog , tanpa scoring pendukung emosi.

Kemudian pada adegan Melati meminta agar  Jati mau menandatangani surat perceraian.

Ini momen pergulatan emosional, Jati bertahan dan Melati memaksakan kehendaknya. Dialog memberikan penekanan pada Melati yang sudah merasa di puncak kelelahan emosionalnya.

Bertutur dari sudut pandangnya, ia merasa satu-satunya jalan keluar, dari perasaannya adalah perceraian.

Ini adalah sebuah momen, dimana ia sebagai “penyerang” dalam struktur insan rumah tangga, ingin menghancurkan tatanan yang telah terjalin bertahun-tahun.

Seharusnya jika diberikan scoring yang menggambarkan pergulatan emosional ini, akan dapat membuat penonton ikut merasakan.

Namun kembali alunan musik piano yang hadir malah memberikan gambaran berbeda , seakan kedua pasangan ini sedang bercengkrama bahagia .

 

Tidak membuat penontonnya merasakan apapun.

 

Alunan lembut piano, baru terasa agak pas saat di penyelesaian babak akhir.

Pada adegan ini , disini baru penontonnya merasakan manisnya persitiwa yang dihadirkan.

Ini sebuah momen, di saat dua hati pasangan suami istri, merasakan bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain, untuk kebaikan insan rumah tangga di dalamnya.

Terasa kedamaian, penyatuan dibalut dalam untaian nada-nada scoring, membantu penonton memahami adegan ini.

Bagaimana scoring dalam adegan-adegan lainnya?

Adapun adegan-adegan lainnya, kembali scoring hanya terasa sebagai tempelan belaka.

Tidak ada penekanan pada pembentukan maupun pengenalan akan apa yang sedang dihadapi karakter, tidak mendukung dialog , serta tidak  memberikan kontribusi yang jelas.

 

Saya sendiri sependapat bahwa scoring musik itu sangat diperlukan, terutama untuk mengidentifikasikan genre dan tema sebuah film serta tentunya menjadikan ciri khasnya.

Jadi jika ingin dijabarkan lagi, scoring merupakan elemen sebagai berikut :

1. Menciptakan Suasana dan Emosi

Musik dapat membangun suasana hati yang sesuai dengan adegan, seperti romantis, tegang, sedih, atau bahagia.

2. Memperkuat Narasi

Sangat krusial,  dikarenakan musik dapat menjadi alat naratif yang membantu penonton memahami perkembangan cerita dan karakter.

3. Membangun Identitas Film

Musik dapat menjadi ciri khas suatu film dan membedakannya dari film lain.

4. Meningkatkan Pengalaman Penonton

Musik dapat membuat penonton merasa lebih terlibat dalam cerita dan terhubung dengan emosi karakter.

Dengan demikian, scoring dalam film Indonesia bukan hanya elemen tambahan.

Dapat dikatakan merupakan bagian integral dari proses kreatif yang dapat meningkatkan kualitas dan dampak film secara keseluruhan.

Studi Banding Scoring

Lalu bagaimana dengan karya filmnya yang lain?

Ini agak berbeda jika dibandingkan pada scoring  atau musik klasik terkenal yang dianggap sebagai scoring, pada film pendek berjudul The Bridge.

Melihat dari film ini. Saya masih merasakan ada korelasi , hubungan antara gambar dengan musiknya.

Tema musik klasiknya itu sendiri menyiratkan ketidak adanya kesatuan, perpisahan sedang berproses , akan terjadi dan itulah yang terjadi.

Namun disini nampaknya scoring dengan musik klasik ini disamakan kedudukan dan fungsinya , membuat ruang pertanyaan besar bagi yang memahami fungsi scoring.

Lalu apakah kira-kira scoring dalam film Indonesia yang kira-kira sesuai dengan teori serta pembahasan di atas?

Saya menemukan pada film pendek berjudul Senyap di akun youtube penyanyi Yura Yunita.

Film pendek ini, merupakan karya sutradara yang sangat memperhatikan elemen scoring untuk membangkitkan pemahaman bagi penontonnya.

Membuat penonton setelah terpikat, pada dialog serta konflik yang dihadapi para karakternya. Scoring yang hadir , membuat sisi emosional penontonpun tertarik untuk lebih memperhatikan dalam-dalam , pada isi cerita dan penasaran akan akhir kisahnya.

Melalui dua perbandingan ini , beserta kajian singkat di atas. Maka ini semua , sayangnya tidak terdapat , dalam film panjang Yang Tersisa Hanya Cinta

Saya merasa benar-benar hanya berhadapan dengan dialog-dialog sarat pesan penting.

Namun tidak merasa tersentuh akan konflik yang dialami oleh karakter pasangan suami istri ini.

Hanya mendapatkan  perasaaan hampa dan bertanya, mengapa masing-masing tak mau faham apa yang dipikirkan serta dirasakan pasangan yang dihadapannya?

Kemudian perlahan mulai jenuh dan saat akhir kisah, yang seakan dengan sangat mudah terprediksi.

Film ini pun perlahan hilang dari kenangan pikiran.

Kesimpulan

Pentingnya Scoring dalam Film: Meningkatkan Emosi dan Narasi

Scoring adalah elemen penting dalam produksi film yang dapat meningkatkan emosi dan narasi.

Dengan menggunakan musik yang tepat, scoring dapat menciptakan pengalaman film yang lebih mendalam dan berkesan bagi penonton.

Oleh karena itu, scoring harus menjadi prioritas dalam produksi film Indonesia, untuk menciptakan film yang berkualitas dan berdampak.

 

 

Tags: demensiainsan rumah tanggaNiniek L KarimRey Mbayangscoring musikWawan SumarmoYang Tersisa Hanya Cinta
Previous Post

Sinopsis AGAPE

Next Post

Film ‘SORE: Istri dari Masa Depan’ Gebrak Box Office! 1,3 Juta Penonton Terpesona dengan Kisah Cinta yang Mengharukan

Nuty Laraswaty

Nuty Laraswaty

Related Posts

kinki
Article

Review dan Kritik Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki (About a Place in the Kinki Region)

26 October, 2026
Review Hungry (2026)
Drama

Review Hungry (2026)

26 October, 2026
Borobudur Bukan Cuma Tempat Foto! Prancis dan Indonesia Siapkan Pengembangan Museum agar Sejarahnya Lebih Mudah Dipahami
Article

Borobudur Bukan Cuma Tempat Foto! Prancis dan Indonesia Siapkan Pengembangan Museum agar Sejarahnya Lebih Mudah Dipahami

22 October, 2026
Review & Kritik Ah Girl: Ketika Sudut Pandang Anak Terasa Terlalu Dewasa
Drama

Review & Kritik Ah Girl: Ketika Sudut Pandang Anak Terasa Terlalu Dewasa

22 October, 2026
Main Belakang
Article

Review Main Belakang: Berawal dari Lapangan Padel, Perselingkuhan Ini Malah Menyeret Dua Pasangan!

22 October, 2026
Review Hasut
Article

Review Hasut: Ilya Sigma Buktikan Horor Tak Butuh Hantu untuk Membuat Penonton Ketakutan

14 October, 2026
Next Post
Box Office!

Film 'SORE: Istri dari Masa Depan' Gebrak Box Office! 1,3 Juta Penonton Terpesona dengan Kisah Cinta yang Mengharukan

Ejen Ali

Film Animasi Ejen Ali The Movie 2: Memukau Penonton Indonesia

Ghost Train

Review Ghost Train : Nasib Youtuber yang Ingin Kontennya Viral

Apakah Cinta Harus Selalu Diperjuangkan Sendirian dalam Henry’s First Dates?
Movie Review

Apakah Cinta Harus Selalu Diperjuangkan Sendirian dalam Henry’s First Dates?

by Nuty Laraswaty
26 October, 2026
0

Film  Henry's First Dates membalik posisi karakter dari 50 First Dates. Sinopsis Henry’s First Dates Henry (Nadech Kugimiya) adalah pria ramah...

Read more

Review dan Kritik Tentang Suatu Tempat di Wilayah Kinki (About a Place in the Kinki Region)

Review Hungry (2026)

Borobudur Bukan Cuma Tempat Foto! Prancis dan Indonesia Siapkan Pengembangan Museum agar Sejarahnya Lebih Mudah Dipahami

Review & Kritik Ah Girl: Ketika Sudut Pandang Anak Terasa Terlalu Dewasa

Laraswaty

Copyright@2025

  • About
  • Contact
  • Privacy Policy

No Result
View All Result
  • Movie Review
    • Action
    • Comedy
    • Drama
    • Superhero
    • Sci-fi
  • Press Release
  • Interview
  • Prize Winner

Copyright@2025

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In