Film Yang Tersisa Hanya Cinta
Pada intinya, film ini bercerita tentang kehidupan rumah tangga sepasang suami istri yang retak dan memutuskan untuk bercerai.
Sinopsis Singkat
Rumah tangga Melati (Dinda Hauw) dan Jati (Rey Mbayang) yang dibangun selama tujuh tahun, dihadapkan pada prahara.
Lelah menjadi tulang punggung keluarga karena Jati enggan mencari pekerjaan membuat Melati mantap bercerai dengan suaminya.
Namun, pada malam lebaran, permintaan ibu Melati (Niniek L Karim) meminta Jati dan Melati untuk bersatu agar dapat merayakan momen lebaran bersama-sama.
Ibu Melati ini mengalami demensia , adapun Jati sangat menyayangi Ibu Melati yang telah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
Melati juga merasa bahwa ibunya akan sangat kehilangan Jati jika mereka berpisah. Namun ia sudah merasa, ini adalah saatnya untuk berpisah, secara emosional ia sudah merasa lelah.
Daftar nama pemain film “Yang Tersisa Hanya Cinta”.
Dinda Hauw: sebagai Melati.
Rey Mbayang: Sebagai Jati.
Niniek L Karim: Sebagai ibunya Melati.
Dewa Dayana: Sebagai Candra.
Ghina Nisa Salsabiela: Sebagai Galuh.
Gusti Pratama: Sebagai Andika.
Anton Pradhana: Sebagai Bagas.
Melalui tulisan kali ini, saya hendak mengkritik scoring musik yang terasa tidak mendukung , terhadap permainan emosi yang dirasakan oleh insan rumah tangga yang sedang menghadapi masalah ini.
Namun sebelumnya cek trailernya terlbih dahulu
Mengapa sebuah scoring film itu merupakan hal yang krusial dalam sebuah film?
Hal ini disebabkan karena musik merupakan jiwa dari sebuah film. Memberikan pemahaman akan situasi yang sedang dihadapi oleh karakternya.
Namun bisa juga menjadi sebuah pertanda akan adanya sebuah peristiwa yang sangat penting dan akan merubah segalanya.
Terlebih lagi masalah keluarga itu amatlah kompleks, melibatkan banyak emosi serta juga informasi-informasi penting dan mendalam.
Bahwa dalam sebuah kejadian tertentu, musik ini akan mengacu pada sebuah ingatan tertentu.
Musik yang menempel pada karakter pemerannya , akan menjadi benang merah, yang dihadirkan , akan memperjelas pemahaman penonton akan situasi yang sedang dihadapi, beserta hubungan sebab akibatnya.
Apakah itu merupakah adegan yang menerangkan :
-Situasi bahagia?
-Memori?
-Situasi mengancam?
Dan lain-lain.
Kupasan scoring dalam adegan
Terkait akan hal ini, mari diambil contoh , dimulai dengan pembukaan film ini.
Penonton akan dihadirkan pada sebuah peristiwa penting. Ini adalah adegan dimana sebuah keputusan diambil, serta akan mengubah kehidupan para insan rumah tangga.
Jika diperinci ke bagian micro dan inti , maka ini merupakan kunci pertama untuk penonton. Mengenai permasalahan yang dihadapi para karakternya, yaitu rumit dan telah terakumulasi tahunan.
Sebuah adegan yang nemampilkan momen dimana Melati sedang dalam proses negosiasi.
Tentunya emosi yang sedang terjadi adalah semacam rasa antusias bercampur dengan kecemasan, bagaimana jika negosiasi batal?
Ini masalah urgent sekali.
Namun alunan piano yang dihadirkan justru memberikan perasaan tenang, tiada urgensi, tiada kecemasan.
Alunan lagunya menyiratkan semua aman damai, bahkan memiliki kecenderungan datar , tanpa emosi.
Jika dikupas ini kan terasa amat kontras sekali, dengan adegan yang ditampilkan.
Seketika penonton hanya terkait pada dialog , tanpa scoring pendukung emosi.

Kemudian pada adegan Melati meminta agar Jati mau menandatangani surat perceraian.
Ini momen pergulatan emosional, Jati bertahan dan Melati memaksakan kehendaknya. Dialog memberikan penekanan pada Melati yang sudah merasa di puncak kelelahan emosionalnya.
Bertutur dari sudut pandangnya, ia merasa satu-satunya jalan keluar, dari perasaannya adalah perceraian.
Ini adalah sebuah momen, dimana ia sebagai “penyerang” dalam struktur insan rumah tangga, ingin menghancurkan tatanan yang telah terjalin bertahun-tahun.
Seharusnya jika diberikan scoring yang menggambarkan pergulatan emosional ini, akan dapat membuat penonton ikut merasakan.
Namun kembali alunan musik piano yang hadir malah memberikan gambaran berbeda , seakan kedua pasangan ini sedang bercengkrama bahagia .
Tidak membuat penontonnya merasakan apapun.
Alunan lembut piano, baru terasa agak pas saat di penyelesaian babak akhir.
Pada adegan ini , disini baru penontonnya merasakan manisnya persitiwa yang dihadirkan.
Ini sebuah momen, di saat dua hati pasangan suami istri, merasakan bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain, untuk kebaikan insan rumah tangga di dalamnya.
Terasa kedamaian, penyatuan dibalut dalam untaian nada-nada scoring, membantu penonton memahami adegan ini.
Bagaimana scoring dalam adegan-adegan lainnya?
Adapun adegan-adegan lainnya, kembali scoring hanya terasa sebagai tempelan belaka.
Tidak ada penekanan pada pembentukan maupun pengenalan akan apa yang sedang dihadapi karakter, tidak mendukung dialog , serta tidak memberikan kontribusi yang jelas.
Saya sendiri sependapat bahwa scoring musik itu sangat diperlukan, terutama untuk mengidentifikasikan genre dan tema sebuah film serta tentunya menjadikan ciri khasnya.
Jadi jika ingin dijabarkan lagi, scoring merupakan elemen sebagai berikut :
1. Menciptakan Suasana dan Emosi
Musik dapat membangun suasana hati yang sesuai dengan adegan, seperti romantis, tegang, sedih, atau bahagia.
2. Memperkuat Narasi
Sangat krusial, dikarenakan musik dapat menjadi alat naratif yang membantu penonton memahami perkembangan cerita dan karakter.
3. Membangun Identitas Film
Musik dapat menjadi ciri khas suatu film dan membedakannya dari film lain.
4. Meningkatkan Pengalaman Penonton
Musik dapat membuat penonton merasa lebih terlibat dalam cerita dan terhubung dengan emosi karakter.
Dengan demikian, scoring dalam film Indonesia bukan hanya elemen tambahan.
Dapat dikatakan merupakan bagian integral dari proses kreatif yang dapat meningkatkan kualitas dan dampak film secara keseluruhan.
Studi Banding Scoring
Lalu bagaimana dengan karya filmnya yang lain?
Ini agak berbeda jika dibandingkan pada scoring atau musik klasik terkenal yang dianggap sebagai scoring, pada film pendek berjudul The Bridge.
Melihat dari film ini. Saya masih merasakan ada korelasi , hubungan antara gambar dengan musiknya.
Tema musik klasiknya itu sendiri menyiratkan ketidak adanya kesatuan, perpisahan sedang berproses , akan terjadi dan itulah yang terjadi.
Namun disini nampaknya scoring dengan musik klasik ini disamakan kedudukan dan fungsinya , membuat ruang pertanyaan besar bagi yang memahami fungsi scoring.
Lalu apakah kira-kira scoring dalam film Indonesia yang kira-kira sesuai dengan teori serta pembahasan di atas?
Saya menemukan pada film pendek berjudul Senyap di akun youtube penyanyi Yura Yunita.
Film pendek ini, merupakan karya sutradara yang sangat memperhatikan elemen scoring untuk membangkitkan pemahaman bagi penontonnya.
Membuat penonton setelah terpikat, pada dialog serta konflik yang dihadapi para karakternya. Scoring yang hadir , membuat sisi emosional penontonpun tertarik untuk lebih memperhatikan dalam-dalam , pada isi cerita dan penasaran akan akhir kisahnya.
Melalui dua perbandingan ini , beserta kajian singkat di atas. Maka ini semua , sayangnya tidak terdapat , dalam film panjang Yang Tersisa Hanya Cinta
Saya merasa benar-benar hanya berhadapan dengan dialog-dialog sarat pesan penting.
Namun tidak merasa tersentuh akan konflik yang dialami oleh karakter pasangan suami istri ini.
Hanya mendapatkan perasaaan hampa dan bertanya, mengapa masing-masing tak mau faham apa yang dipikirkan serta dirasakan pasangan yang dihadapannya?
Kemudian perlahan mulai jenuh dan saat akhir kisah, yang seakan dengan sangat mudah terprediksi.
Film ini pun perlahan hilang dari kenangan pikiran.
Kesimpulan
Pentingnya Scoring dalam Film: Meningkatkan Emosi dan Narasi
Scoring adalah elemen penting dalam produksi film yang dapat meningkatkan emosi dan narasi.
Dengan menggunakan musik yang tepat, scoring dapat menciptakan pengalaman film yang lebih mendalam dan berkesan bagi penonton.
Oleh karena itu, scoring harus menjadi prioritas dalam produksi film Indonesia, untuk menciptakan film yang berkualitas dan berdampak.







































