On Becoming a Guinea Fowl

Fokus cerita dari sudut pandang kehidupan Shula, seorang wanita yang menemukan jasad pamannya, Uncle Fred, di jalan pada suatu malam.
Setelah penemuan itu, Shula dan sepupunya mulai membuka rahasia keluarga yang telah lama disembunyikan.
Namun cek terlebih dahulu trailernya
Pada babak pertama,
Penonton terasa familiar dengan gaya pengambilan gambar Shula di mobil, yang mirip sekali dengan gaya pengambilan gambar adegan mobil film-film Indonesia.
Otomatis ini memberikan ruang kesamaan dan semakin menarik untuk melanjutkan menonton.

Momen saat Shula menemukan jasad Uncle Fred , penonton dibawa tersenyum simpul karena sisi komedi gelap pun dimulai.
Ibarat adegan pembuka, adegan kali ini menjanjikan dan membuat semakin penasaran, akan kejadian apakah yang terjadi selanjutnya.
Shula kembali ke rumah dan menonton acara TV yang menampilkan dua gadis yang mengadakan lokakarya untuk anak-anak muda tentang burung guinea fowl.
Meskipun hanya gambar kartun burung yang menyertai pembicaraan mereka, Shula tampaknya terobsesi dengan topik ini.
Adegan Menarik
Pengambilan gambar dalam mobil, suasanya makin terasa dekat dengan penonton dan saat adegan bersambung pada momen dimana Shula mulai menghadapi kenyataan bahwa pamannya telah melakukan pelecehan seksual terhadap beberapa wanita di keluarga.
Dapat dikatakan momen yang menggambarkan budaya dimana perempuan hampir di seluruh dunia mengalaminya.
Namun perempuan hanya diam dan secara budaya diharapkan seperti itu , sehingga apa yang dilakukan oleh Shula dan saudara sepupunya selanjutnya, dengan cepat menarik perhatian.
Ini sebuah isyu yang relate dengan penonton , sering dibaca di sosial media dan didengar dalam perbincangan yang santai maupun serius.
Kamera sangat memperhatikan detil-detil raut muka para pemainnya, dan terasa ruang kamera yang tadinya menyempit sekarang mulai agak melebar.

Babak kedua, menekankan pada proses prosesi pemakaman Uncle Fred.
Ini seakan menjadi ruang tersendiri bagi Shula dan sepupunya untuk lebih bertindak jauh lagi.
Sebuah kesempatan yang sangat jarang terjadi, namun dalam hal ini menjadi fokus penting dalam mengungkap rahasia apa lagi yang ada dan berkaitan dengan Uncle Fred.
Apakah hanya mereka saja yang menjadi korban?
Penontonpun juga dibawa untuk melihat proses pemakanam di Zambia yaitu melibatkan keluarga dan penduduk sekitar.
Dengan mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen atau Islam, maka biasanya prosesinya mengikuti ajaran agama yang dianut.
Namun dalam film ini lebih diperhatikan proses secara sosial budayanya, sehingga ini menarik untuk terus ditonton.
Terlihat pula kesamaan persiapan proses ini menyerupai di Indonesia, dimulai dengan membersihkan dan menghias rumah duka. Berlanjut membersihkan tubuh jenazah, dan mempersiapkan barang-barang yang akan dikuburkan bersama jenazah. Kemudian jenazah diberkati oleh pemuka agama atau pemimpin komunitas, hingga dikuburkan di pemakaman lokal, seringkali dengan ritual dan doa.
Pengambilan gambar dalam adegan-adegan ini melibatkan ruang yang sempit, dengan gambar-gambar yang memadat. Ini seolah menggambarkan kedekatan hubungan mereka dan keterikatan atau ketergantungan akan yang satu dan lain.
Penggambaran ini ditampilkan secara tepat, mengingat kabar pelecehan yang telah dilakukan oleh Fred ini tentunya akan merubah susunan kedekatan tersebut.
Apakah perubahannya sangat besar, atau pada akhirnya akan kembali seperti di awal?
Disini penonton akan menyaksikan proses “denial” dan kemudian penerimaan , keterbukaan dan akhirnya kesimpulan dari komunitas ini.
Penonton juga dimanjakan mata akan kesederhaan dan kerentanan kondisi sosial yang dialami oleh komunitas/penduduk disana.
Pengambilan gambar yang menunjukkan lingkungan yang kumuh denganruang kiotak tertutup, seolah-olah mewakilkan pendapat bahwa komunitas/penduduk ini sangat menjaga satu dengan yang lain dengan sangat ketat.
Tiada ruang bebas dalam setiap gambarnya , kamera dengan pengambilan gambar wide screen sangat sedikit , bahkan nyaris pandangan mata penonton disekap dalam kotak sempit yang suram dan memadat.

Mengingat bahwa bagaimana film ini mengeksplorasi tema-tema seperti pelecehan seksual, trauma, dan kekuatan perempuan dalam menghadapi kesulitan.
Dapat dikatakan , hasil yang ingin dirasakan dan disampaikan oleh Rungano Nyoni tercapai.
Penonton turut merasakan , dan sisi komedi yang ditampilkan seakan membalik kepada penonton , untuk mentertawakan diri sendiri. Isyu global yang terasa relate dengan kehidupan sehari-hari.
Karakter utama dalam film ini:
– Shula (Susan Chardy): Protagonis film yang menemukan jasad Uncle Fred dan mulai membuka rahasia keluarga.
– Nsansa (Elizabeth Chisela): Sepupu Shula yang juga menjadi korban pelecehan Uncle Fred.
– Bupe (Esther Singini): Sepupu Shula yang lain yang mencoba bunuh diri setelah mengalami pelecehan.
Pesan Film:
“On Becoming a Guinea Fowl” bukan sekadar tontonan, tapi juga ajakan untuk merenung tentang keberanian, keadilan, dan pentingnya memutus rantai luka dalam keluarga.
Film ini menunjukkan bagaimana perempuan dapat menjadi kuat dan berani dalam menghadapi kesulitan dan trauma








































