I Was a Stranger
Alur kisah dimulai dari seorang dokter asal Suriah yang melarikan diri dari Aleppo bersama putrinya demi menyelamatkan diri.
Pelarian ini menjadi pemicu rangkaian kejadian yang berkembang semakin kompleks.
Perjalanan tersebut mempertemukan mereka dengan lima orang asing yang memiliki peran dan konflik masing-masing.
Seorang penyelundup, tentara, penyair, dan kapten penjaga pantai terlibat dalam situasi yang menguji pilihan hidup dan nilai kemanusiaan.
Trailernya dapat dilihat disini
Review
I Was a Stranger adalah film yang tidak terburu-buru menjelaskan konflik, melainkan mengajak penonton merasakan apa artinya menjadi “orang asing”.
Ini mengandung pengertian bukan hanya di tempat baru, tetapi juga di dalam relasi dan bahkan di dalam diri sendiri. Film ini berbicara pelan, namun justru di situlah kekuatannya.
Dari sudut pandang humanis, film ini memotret manusia sebagai makhluk yang rapuh, penuh jeda, dan sering kali tidak punya bahasa untuk menyampaikan rasa kehilangan, keterasingan, atau kebutuhan untuk diterima.
Karakter-karakternya tidak digambarkan sebagai pahlawan atau penjahat, melainkan individu biasa yang berusaha bertahan dengan cara mereka masing-masing.
Yang paling terasa adalah bagaimana film ini memberi ruang pada keheningan, melalui tatapan, jarak antar tubuh, percakapan yang terputus.
Semua itu menjadi bahasa emosi yang jujur.
Kita diajak memahami bahwa menjadi “asing” bukan selalu soal identitas atau kewarganegaraan, tetapi tentang tidak dikenali, tidak dipahami, dan tidak sepenuhnya diterima, bahkan oleh orang terdekat.
Film ini juga menolak menghakimi.
Alih-alih menyodorkan jawaban, I Was a Stranger membuka pertanyaan:
Bagaimana rasanya hidup ketika empati datang terlambat, dan bagaimana manusia tetap berusaha terhubung meski penuh luka?
Pada akhirnya, I Was a Stranger adalah refleksi tentang kemanusiaan itu sendiri.
Berbicara tentang kebutuhan dasar untuk dilihat, didengar, dan diakui.
Sebuah film yang mengingatkan bahwa di balik setiap “orang asing”, selalu ada cerita yang layak dipahami, bukan disederhanakan.
Para pemain
Yasmine Al Massri, Yahya Mahayni, Omar Sy, Ziad Bakri, Constantine Markoulakis, Jason Beghe, Ayman Samman, Massa Daoud, dan Angeliki Papoulia menjadi bagian dari cerita ini.
Masing-masing memerankan sosok yang berkontribusi pada jalinan konflik dan emosi di sepanjang film




































