The Ugly Stepsister
Film asal Norwegia ini mengisahkan tentang Elvira, yang berambisi untuk bisa menikah dengan Pangeran Julian. Dengan bantuan ibunya, Rebekka, Elvira melakukan berbagai cara ekstrem untuk tampil cantik dan memenuhi standar kecantikan yang ada.
Karena ia lahir sebagai sosok perempuan yang tak memenuhi standar definisi kecantikan di daerahnya. Maka ia pun merelakan dirinya , untuk memenuhi standar kecantikan, merubah, mengoperasi bahkan melukai dirinya.
Film ini termasuk jenis film Body Horror, mengandung pengertian bahwa tema penceritaan lebih ditekankan pada sisi perjuangan mentransformasi tubuh sesuai standar kecantikan tertentu.
Pada genre film semacam ini, akan diperlihatkan hal-hal yang membuat yang menonton merasa mual dan jijik.
Jika itu berhasil mengenai emosi penontonnya, maka film tersebut dapat dikategorikan sebagai film yang berhasil.
Review The Ugly Stepsister
Menyaksikan film ini memang membuat penonton merasakan perjuangan perempuan untuk menuruti kemauan lingkungan sosialnya.
Hampir dapat dikatakan , dengan selang 10 atau 15 menit, penonton akan mendengarkan sura jeritan perempuan.
Elvira, diminta untuk merubah hidungnya . Disini jeritan pertama , sangat mengena di hati. Pilu dan sakit sekali.
Berkembang dengan jeritan-jeritan berikutnya, disertai wajah Elvira yang semakin murung dan kesakitan
Final proses mempercantik diri, benar-benar tak terbayangkan dan memang paling menyakitkan.
Pertanyaannya adalah apakah berhasil?
Yang terlihat adalah bagaimana Elvira semakin murung, terluka dan tersakiti.
Namun tak ada yang peduli, semua itu dianggap adalah salah satu bentuk penyerahan diri perempuan untuk mengikuti apa yang dikehendaki masyarakatnya.
Apakah tujuannya berhasil?
Akhir cerita menunjukan bagaimana Elvira menemukan kebahagiaan dan menyadari bahwa saudara perempuannya, Alma, memiliki cinta yang lebih tulus daripada lainnya.
Saat Alma membantu mengeluarkan cacing dari badannya, serta parodi penutup akan gagak hitam.
Ini merupakan penutup sempurna, serta cemoohan akan standar kecantikan yang tidak masuk akal ini.
Jika dibandingkan dengan film bertema sejenis seperti Sick of Myself (2022), maka dapat dikatakan film ini lebih menonjolkan pada efek “penyiksaan” diri , agar terlihat cantik.
Penekanan pada jeritan demi jeritan kesakitan ini, serta perlakuan kasar sang Ibu,Rebekka, kepada Elvira yang terus dipaksa untuk terlihat cantik , amat memilukan sekali.
Namun efek yang ditimbulkan dipastikan akan membekas dan mengingatkan kepada seluruh penonton , sebenarnya batasan yang benar yang seperti apa?
Pada akhirnya
Film ini mengajarkan kita tentang kebahagiaan sejati yang tidak hanya tentang kecantikan fisik, tetapi juga tentang cinta dan kebebasan.
Mengenai Film
| Norwegian | Den Stygge Stesøsteren |
|---|---|
| Directed by | Emilie Blichfeldt |
| Screenplay by | Emilie Blichfeldt |
| Based on | “Aschenputtel” by the Brothers Grimm |
| Produced by | Maria Ekerhovd |
| Starring |
|
| Cinematography | Marcel Zyskind |







































