Comedy Drama Movie Review

The Cobbler , ada keajaiban pada sepatu

Summary

Film ini memang dirilis sekitar 7 tahun yang lalu, dan sempat menimbulkan kontroversi saat pemutarannya di Festival Toronto, namun alur ceritanya cukup menghibur penonton . Bagi yang ingin menonton, dapat menontonnya di Mola TV.

Bagi penyuka film bergenre fantasi namun ingin juga dibawa tertawa oleh alur ceritanya, bisa jadi film satu ini yang berjudul The Cobbler , cocok untuk ditonton. Pemeran utamanya adalah Adam Sandler , serta juga ada Dustin Hofman yang  merupakan salah satu aktor kawakan , yang sudah jarang muncul dan berakting dalam film.

The Cobbler

The Cobbler yang tayang di Mola ini , menceritakan mengenai seorang pemuda bernama Max  Simkin (diperankan oleh Adam Sandler) yang memiliki sebuah toko sepatu yang telah ia warisi dari keluarga besarnya. bahkan profesi ini seolah menjadi ciri khas dari keluarganya.

Suatu hari , saat ia sedang memperbaiki sol sepatu milik Leon Ludlow (diperankan oleh Method Man) , mesin yang ia gunakan rusak. Mau tak mau, ia harus mempergunakan mesin lama milik leluhurnya. Saat itulah seolah suatu keajaiban terjadi.

Iseng setelah memperbaiki sepatu Leon, ia pun melihat kalau ukuran sepatunya sama dengan ukuran sepatu miliknya. Ia pun mencoba memakainya . Ia pun kaget saat menyadari bahwa dirinya berubah menjadi Leon .

Penasaranpun datang menghampiri, sehingga Max pun mencoba satu persatu sepatu yang ukurannya sama dengan ukuran sepatu miliknya, lalu ia pun menjelma menjadi pemilik awal sepatu tersebut. Ia merasa sangat senang dan mulai bermain-main dengan sepatu milik orang lain tersebut. Hamun tentunya ada konsekuensi tertentu, saat menggunakan sepatu milik orang lain tersebut, yaitu jika sepatu itu terlepas dari kakinya, maka ia pun akan segera berubah kembali menjadi wujud aslinya , sebagai Max Simkin.

Adegan konyol dan kocak disini terbangun saat Max mulai iseng memasuki kehidupan orang-orang yang sepatunya ia pakai. Dari hal-hal yang hanya bisa kagumi dari jauh , sekarang bisa ia lakukan. Seperti makan gratis di restoran, menjadi anak remaja yang lugu, sosok play boy yang kehadirannya seakan menjadi magnet para perempuan untuk datang menghampirinya hingga Leon yang ternyata seorang preman dan terbiasa bermain kasar.

Max pun mulai terbawa pada pekerjaan yang dilakukan oleh Max, hingga tanpa sadar ia pun terlibat lebih jauh dalam komplotan kontraktor perumahan, yang mampu melakukan tindakan apapun guna mencapai keinginan dan mencapai tujuan.

Disinilah penonton dibawa tersenyum hingga tertawa saat melihat Max yang jujur , ingin bertindak benar, namun malah melibatkan dirinya semakin dalam dalam permasalahan yang ada.

Kemudia Max juga sangat terpukul dan merasa bersalah, karena ia telah menggunakan sepatu milik Ayahnya , guna membuat Ibunya senang. Saat ia memakai sepatu milik Ayahnya, lalu makan malam dengan Ibunya, terlihat betapa bahagia Ibu Max, namun sayangnya keesokan harinya wafat. Hal ini menyebabkan Max merasa sangat terpukul dan menyalahkan dirinya karena melakukan penipuan terhadap Ibunya dengan berpura-pura menjadi Ayahnya Abraham (diperankan oleh Dustin Hoffman)

Satu peristiwa berkembang menjadi peristiwa yang lain lagi, dan pada akhirnya memberikan twist penyelesaian yang samar-samar bisa tertebak, namun tetap memberikan kejutan yang menarik.

Bagi yang ingin menonton, dapat menonton trailernya terlebih dahulu

Film ini memang dirilis sekitar 7 tahun yang lalu, dan sempat menimbulkan kontroversi saat pemutarannya di Festival Film Toronto, namun alur ceritanya cukup menghibur penonton . Bagi yang ingin menonton, dapat menontonnya di Mola TV.

Kategori Movie/review

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *